Kamis, 08 Agustus 2013

NUBUATAN LUAR BIASA TENTANG AIR BAH

Sebuah renungan khotbah yang sangat memberkati saya :) ...

NUBUATAN LUAR BIASA TENTANG AIR BAH

By Maq  |    |  29 May 2013
NUBUATAN LUAR BIASA TENTANG AIR BAH
~” KETIDAKADILAN ALLAH?” (2) ~


Kejadian 6:9, 22 Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.
Jelas sekali Alkitab merecord riwayat nabi Nuh, sebagai orang yang tidak bercela di antara orang sejamannya dan hidup bergaul dengan Tuhan. Alkitab mencatat apa yang tidak dicatat manusia. Manusia juga tidak mengerti hubungan manusia lain dengan Tuhannya, tetapi betapa banyaknya manusia menghakimi manusia lain dan melihat hanya apa yang di depan matanya.
Mari kita berlogika: Jika manusia sejamannya berpikir bahwa Nuh adalah orang benar yang tidak bercela, tentunya mereka akan mengikuti teladannya dan masuk dalam bahtera. Tetapi nyatanya, penilaian manusia sangatlah dangkal dibanding penilaian Tuhan. Jadi penghakiman mereka terhadap Nuh dan "bahtera konyolnya" justru membinasakan mereka sendiri.
Yang lebih konyol lagi beberapa orang berpikir bahwa jika yang dilakukan adalah benar-benar dari Tuhan, maka ia akan diterima atau tidak menimbulkan perpecahan. Nuh mendapatkan mandat dari Tuhan, tapi tidak ada yang mengikuti. Lihat saja Yesus, berapa yang tinggal dengan "kegagalan-Nya" saat Ia menuruti kehendak Bapa-Nya dengan tergantung di atas kayu itu?  Dalam Kejadian 6:22 dikatakan bahwa Nuh melakukan apa yang difirmankan Tuhan, ia tidak berargumentasi dan tidak membantah. Suatu sikap yang mencerminkan ilahi, godly - itulah sebabnya Tuhan mempercayakan proyek besar itu padanya. Manusia lain yang tidak mempercayai kepemimpinannya dan yang mengolok-olok dia tidak ada yang masuk dalam hitungan sejarah. Bahkan nama mereka pun pun tidak ada, hanya Nuh yang ditulis hidupnya tak bercela di antara orang-orang yg bengkok hatinya sejamannya.
Waktu saya mempelajari lebih dalam, saya terheran-heran mendapatkan penemuan ini, sebab memang saya ingin menghitung umur mereka, tetapi matematika saya lebih mempercayai internet saja untuk sementara daripada mengeluarkan kalkulator. Mari, kita telusuri lewat kakek moyang Nuh dulu dan apa yang mereka lakukan untuk “menyiasati” bah yang akan datang di ratusan tahun yang akan datang pada jamannya. Saya harap Saudara bisa mengikuti “sekolah teologia” di bawah ini sebentar, mudah, tidak berbelit, tetapi akan membukakan mata rohani kita dan akan menolong kita mengerti apa yang harus kita lakukan menjelang kedatangan Tuhan yang kedua kalinya.
Henokh. (Anak Yared), yang berarti "mengajar," atau "permulaan." Dia adalah yang pertama dari empat generasi pengkhotbah. Bahkan, nubuat mencatat paling awal adalah dengan Henokh, yang cukup luar biasa bernubuat mengenai Kedatangan Kristus yang kedua kalinya.
Metusalah. Banjir Nuh tidak datang sebagai kejutan. Ini telah diberitakan selama empat generasi. Tapi sesuatu yang aneh terjadi ketika Henokh berumur 65, pada waktu "dia berjalan dengan Allah." Henokh diberi nubuat bahwa selama anaknya masih hidup, penghakiman banjir akan ditahan, tetapi segera setelah ia meninggal, banjir akan diutus.
Henokh menamai anaknya untuk mencerminkan nubuatan ini. Nama Metusalah berasal dari dua akar: Muth, kata akar yang berarti "kematian", dan dari shalach, yang berarti "membawa," atau "untuk mengirim sebagainya." Dengan demikian, nama Metusalah berarti "akan membawa kematian." Dan, memang, di tahun Metusalah mati, datanglah banjir. Metusalah berumur 187 ketika memperanakkan Lamekh, dan hidup 782 tahun lagi. Lamekh memperanakkan Nuh ketika ia 182. Banjir datang pada saat Nuh berumur 600 tahun. 187 + 182 + 600 = 969, usia Metusalah ketika ia meninggal.
Sangat menarik bahwa kehidupan Metusalah pada dasarnya merupakan simbol kemurahan Allah dalam menetapkan penghakiman akan datangnya banjir. Karena itu pantas bahwa umur hidupnya merupakan yang tertua dalam Alkitab, artinya melambangkan perpanjangan ekstrim dari rahmat Allah.
Lamekh. Anak Metusalah yang bernama Lamekh, akarnya katanya masih jelas sampai saat ini. Dalam kata bahasa Inggris Lamentation artinya, "ratapan". Lamekh menyiratkan "putus asa." (Nama ini juga terkait dengan Lamekh [yang sejalan dengan Kain] yang secara tidak sengaja membunuh anaknya Tubal-Cain saat berburu.)
Nuh. Lamekh, tentu saja, adalah ayah Nuh, yang berasal dari kata nacham, yang berarti "untuk membawa bantuan" atau "kenyamanan," sebagaimana Lamekh sendiri menjelaskan keadaan lewat nama anaknya.
Artinya, nubuatan mengenai air bah sudah ada (seperti nubuatan tentang kedatangan Yesus sudah dekat), lalu bahkan tanda nama dalam keluarga sudah ada, jadi mereka tinggal tunggu kakek buyut dan kakek dan ayah mendekati ajal, dibarengi dengan selesainya proyek kapal besar itu (tanda-tanda pada jaman kita mengenai kedatangan Yesus sudah ada dimana-mana mengenai penunggang kuda, air sungai jadi merah dan mendidih), itu sudah seharusnya jadi pertanda besar akan datangnya air bah. APALAGI, binatang-binatang berdatangan masuk bahtera, itu nggak bisa disangkal bahwa itu merupakan pekerjaan tangan Tuhan sendiri. Tapi, tapi…manusia (termasuk sanak saudara Nuh dari keturunan Metusalah dan Lamekh yang tentunya masih ada banyak yang hidup) kenapa tidak ada yang ikutan masuk ke dalam bahtera? Dengan kata lain mengapa mereka tidak menghiraukan keluarga mereka sendiri (Nuh), dan arti dari nama keluarga dan nubuatan kakek moyang mereka mengenai datangnya bah? Oh!!!
Kiranya ini menjadi seruan keras bagi kita semua, kedatangan Tuhan sudah sangat dekat, kita harus berpakaian putih. Seruan sudah dimana-mana, dengan kata lain Tuhan tidak pernah akan menghukum umat-Nya atau meninggalkan umat-Nya saat rapture tanpa memberitahukan dengan rinci lewat khotbah, nubuatan, tanda-tanda. Barangsiapa bertelinga pastilah ia mendengar dan mengubah cara hidupnya; tetapi jika masih saja menjalankan hidup dengan cara lama dan tidak berpakaian putih, maka pintu anugerah itu akan ditutup oleh Tuhan sendiri, sebagaimana Nuh tidak punya kendali lagi atas pintu bahtera yang dibuatnya saat Tuhan sendiri yang menutup dan di luar sana erangan dan dobrakan manusia-manusia yang tidak mempercayai pemberitaannya selama 100 tahun bahwa hari itu akan tiba, dengan pasti!
Nuh - Kej 7  Tidak dikatakan juga bahwa Tuhan membantu percepatan pembuatan bahtera itu, sebab sebegitu lamanya persiapannya, yaitu seabad sendiri. Tetapi dikatakan bahwa binatang-binatang mendatangi Nuh untuk masuk ke dalam bahtera itu. Ini pasti bantuan Tuhan. Ketika tiba saatnya air bah itu datang ke bumi, Tuhan menutup pintu bahtera nuh itu. Pas sebelum itu Metusalah mati, dan tepatlah nubuatan Henokh mengenai kapan datangnya air bah itu. Herannya, pada waktu pembuatan bahtera, kita tidak menemukan campur tangan Tuhan, tetapi waktu-waktu penutupan atau penyegelan, Tuhan sendiri yang menyegel sehingga manusia lain tidak bisa masuk atau Nuh tidak bisa membukanya. Lalu bagaimana dengan sanak saudara Nuh? Kemenakan, sepupu, dan keluarga besarnya, mereka yang melihat pembuatan bahtera itu selama 100 tahun dan mendengar pemberitaan nabi Nuh sepanjang itu,...bukankah mereka mengeraskan hati di masa kelegaan (100 thn)?
Ketika air bah itu mulai naik, tentunya orang-orang berlarian mengetuk pintu bahtera. Untuk lari ke gunung mungkin kejauhan dan kelelahan. Jadi, tentunya mereka berteriak dan bertobat pada sekitar hari ke 3, 4, 5. Tentunya Nuh dan seluruh keluarga melongok ke jendela dan meratap melihat banyaknya orang yang sudah diinjilinya itu meraung meminta dibukakan pintu. Dan Nuh tidak bisa menjelaskan bahwa Tuhan sendirilah yang sudah mengunci pintu itu sehingga mustahil baginya membukakannya bagi mereka. Tidak ada lagi anugerah bagi mereka waktu pintu sudah ditutup. Apakah Tuhan jahat? Mengapa mereka hanya percaya saat sudah benar-benar terjadi? Mengapa manusia tidak belajar dari setiap kejadian bahwa dosa itu menjerat, kebebalan hati itu akan diganjar?
Mengapa menunggu sampai sakit baru berhenti merokok, berobat, bermain seks bebas? Mengapa menunggu ketangkep basah baru berhenti lihat gambar porno, selingkuh, berbohong, mencuri? Sudah tahu bahwa perbuatan-perbuatan seperti itu atau dosa itu akan menjeratnya suatu kali nanti, tetapi kenapa terus dilakukan? Sudah tahu bahwa judi dan semacamnya akan memurukannya dan sejarah menuliskan bahwa penjudi selalu kalah dan miskin menderita, tetapi kenapa terus saja melampiaskan nafsunya untuk bisa mengembalikan uangnya?
Manusia itu menjerit di luar bahtera dan Tuhan tidak lagi berbelas kasihan. Banyak orang berpikir bahwa mana mungkin Tuhan dalam kebaikannya tega melemparkan manusia ke neraka, tega tidak menyelamatkan, tega menutup pintu anugerah....Ya memang Tuhan tidak pernah tega melakukan itu semua, tetapi dosa merekalah yang membuat mereka berada di sana. Jadi jelas sekali bukan Tuhan yang membuat itu semua. Manusia tidak akan bisa menyalahkan Tuhan, sebab sudah ada hati nurani yang memberikan pelita dalam hati manusia untuk sadar dan bertobat.